Selamat Datang di Blog Saya. Jangan lupa meninggalkan pesan dan komentar Anda
Tampilkan postingan dengan label Wirausaha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wirausaha. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Maret 2011

Pemuda - Wirausaha

PEMUDA-WIRAUSAHA


KELEMAHAN: KEKUATAN:
  • PENGALAMAN FISIK
  • INSTANT IDEALIS
  • EGOIS CITA-CITA
  • PUTUS ASA KREATIVITAS
  • GENGSI KOLEKTIVITAS
  • SANTAI,RELAKS SEMANGAT

PERUBAHAN DARI KE
  • AKTIF PRO-AKTIF
  • KREATIF KREATIF-INOVATIF
  • PRODUKIF BERNILAI (TAMPIL BEDA)
  • PENGIKUT PEMIMPIN INISIATOR
  • SERBA TAHU SERBA MAPAN
  • CAKAP SURVIVAL SKILL
  • OUTPUT OUTCOME


MENUJU PROFESIONALITAS:

PENGALAMAN – KETERAMPILAN - PENGETAHUAN

LEARNING: TO KNOW; TO DO; TO LIVE TOGETHER,
TO BE ......; HOW TO LEARN – UNLEARN

MENUJU: PENINGKATAN;
  • PRODUKTIVITAS;
  • VISIONARY; FUTURISTIK
  • WAWASAN PIMPINAN DAN KETEELADANAN
  • CAKAP (LIFE SKILL)


DARI KE
  • PENCARI KERJA PENCIPTA KERJA
  • PEKERJA PENCIPTA KAPANGAN KERJA
  • PEMBUKA LAPANGAN KERJA PEMUDA WIRASAHA BARU

KEPELOPORAN WIRA: UTAMA; GAGAH BERANI
  • KEPEMIMPINAN SWA: MANDIRI
  • KEMANDIRIAN STA: BERDIKARI
  • KEBERANIAN USAHA:PRODUKTIVITAS

Minggu, 10 Oktober 2010

Pendidikan Kewirausahaan

Modal utama seorang entrepreneur bukanlah uang, melainkan kreativitas. Tanpa kreativitas, syarat utama seorang calon entrepreneur, yang ada bukanlah entrepreneur sejati, melainkan pedagang.

Ciputra: Kita Terlalu Banyak Ciptakan Sarjana Pencari Kerja!

Oleh ST SULARTO

KOMPAS.com - Pengembangan entrepreneurship (kewirausahaan) adalah kunci kemajuan. Mengapa? Itulah cara mengurangi jumlah penganggur, menciptakan lapangan kerja, mengentaskan masyarakat dari kemiskinan dan keterpurukan ekonomis. Lebih jauh lagi dan politis, meningkatkan harkat sebagai bangsa yang mandiri dan bermartabat.

Dalam ranah pendidikan, persoalannya menyangkut bagaimana dikembangkan praksis pendidikan yang tidak hanya menghasilkan manusia terampil dari sisi ulah intelektual, tetapi juga praksis pendidikan yang inspiratif-pragmatis.

Praksis pendidikan, lewat kurikulum, sistem dan penyelenggaraannya harus serba terbuka, eksploratif, dan membebaskan. Tidak hanya praksis pendidikan yang link and match (tanggem), yang lulusannya siap memasuki lapangan kerja, tetapi juga siap menciptakan lapangan kerja.

Panelis Agus Bastian menangkap gejala yang berkebalikan di lingkungan terdekatnya, Kota Yogyakarta. Di satu sisi bermunculan banyak entrepreneur muda yang kreatif. Mereka jeli menangkap peluang menjawab kebutuhan komunitas kampus. Misalnya bisnis refil tinta, merakit komputer, jual beli buku, cuci kiloan, melukis sepatu—sebelumnya tentu saja yang sudah lama melukis kaus—sama seperti rekan-rekan mereka di kota lain, seperti Bandung.

Sebaliknya, pada saat yang sama, rekan-rekan mereka berebut tempat meraih kursi pegawai negeri. Ribuan anak muda terdidik berdesakan antre mendaftar, mengikuti ujian saringan, bahkan ada yang perlu merogoh kocek ratusan ribu untuk pelicin.

Ditarik dalam konteks nasional, pengamatan Bastian itulah miniatur kondisi ketenagakerjaan Indonesia, lebih jauh lagi potret lemahnya jiwa kewirausahaan. Misalnya, bahkan untuk sarjana yang relatif potensial terserap di lapangan kerja pun, sampai pertengahan tahun lalu 70 persen dari 6.000 sarjana pertanian lulusan 58 perguruan tinggi di Indonesia menganggur. Merekalah bagian dari 9,43 juta atau 8,46 persen jumlah penduduk pada Februari 2008.

Tidak imbangnya jumlah pelamar kerja dan lowongan kerja, gejalanya merata di seluruh pelosok—bahkan jumlah penganggur terdidik semakin