Selamat Datang di Blog Saya. Jangan lupa meninggalkan pesan dan komentar Anda

Senin, 19 November 2012

Potret "PENDIDIKAN" Indonesia


Potret “PENDIDIKAN” Indonesia

OPINI | 24 October 2012 | 15:08Dibaca: 54   Komentar: 0   Nihil

Sampai saat ini pendidikan di Indonesia masih saja berkutat pada hal yang itu-itu saja. Kondisi ini sungguh memprihatinkan, di mana pendidikan merupakan fondasi kompetensi suatu negara.
Berdasarkan dari hitungan matematis, perkembangan pendidikan di Indonesia masih tertinggal dibandingkan dengan negara berkembang lainnya. Data UNESCO mengenai hasil pemantauan pendidikan dunia dari 127 negara, Education Development Index (EDI) Indonesia berada pada posisi ke-69, sementara Malaysia di peringkat ke-65, dan Brunei peringkat 34.
Jika ditilik, jauhnya posisi Indonesia dari peringkat single digit menjadi wajar adanya. Pemeringkatan itu seakan menjadi legitimasi dari potret pendidikan Indonesia yang sangat rendah. Dari sisi program, Indonesia sudah memiliki rancang design, yang disusun oleh para cendikia dalam rencana strategis.
Contoh nyata lainnya, Indonesia punya program Wajib Belajar 9 Tahun, program Bantuan Operasional Sekolah (BOS), beasiswa Bidik Misi dan lainnya. Dari segi pembiayaan negara, sektor pendidikan sudah mendapat porsi besar, yakni 20% dari total Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Jadi di atas kertas, semua tampak sempurna.
Namun fakta di balik kertas, masih jauh dari sempurna. Fakta sederhana, dapat dilihat di perempatan jalan. Dengan mudah dapat ditemukan anak usia sekolah yang mengamen, meminta-minta, atau aktivitas nonakademis lainnya. Berdasarkan data, angka putus sekolah di Indonesia, trendnya pun semakin meningkat.
Lantas apa yang menjadi belenggu dunia pendidikan ?
Faktornya memang sangat banyak. Di antaranya, pemenuhan gizi di Indonesia yang masih rendah, mutu tenaga pendidik yang masih perlu ditingkatkan. Dan faktor lainnya adalah kurangnya keseriusan untuk membangun atmosfer dunia pendidik yang kondusif di Tanah Air. Problem sistemik inilah menjadi sandungan terbesar.
Faktor lain yang perlu digaris bawahi, yakni, bahwa penyakit kronik korupsi turut mewarnai dunia pendidikan. Pertengan tahun ini, BPK mengemukakan adanya penyimpangan penggunaan anggaran di kementerian dan lembaga. Salah satunya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yang duduk di posisi ketiga.
Bayangkan jika posisi Indeks Pembangunan Pendidikan Indonesia yang berada di posisi ketiga, pastilah semua anak bangsa bisa mengenyam pendidikan dengan layak.
Sumber:http://sosbud.kompasiana.com/2012/10/24/potret-pendidikan-indonesia-503832.html

Potret Pendidikan Desa dan Kota


Potret Pendidikan Desa dan Kota

OPINI | 25 July 2012 | 11:28Dibaca: 160   Komentar: 0   1 menarik
Indonesia merupakan negara yang besar, besar dari jumlah populasinya dan besar dari segi luas negaranya. sudah menjadi rahasia umum bahwa pendidikan di Indonesia masih jauh tinggal di belakang jika di bandingkan dengan negara2 tetangga seperti Malaysia, Singapur, Thailand, Cina, dll yang masih berada di Asia. jangan di bandingkan dengan negara2 maju karena memang lebih jauh lagi jika dibandingkan, jauh ke belakang. ^-^
jika merujuk pada PISA (Programme for International Student Assessment), Indonesia masih jauh tertinggal dari segi kualitas pendidikan dibandingkan dengan negara2 lain di dunia. data 2009 yang dikeluarkan oleh PISA, Indonesia berada di peringkat 10 besar terbawah dari 65 negara lainnya. padahal jika melihat lebih jauh sungguh anggaran pendidikan yang dikucurkan sangatlah besar, dan seharusnya dapat mendongkrak sistem pendidikan ke arah yang lebih baik, bukan ke arah yang lebih buruk dan semakin terpuruk.
apa yang salah?
sebenarnya kalau mau jujur menilai, pendidikan di Indonesia masih belum merata. masih terfokus pada daerah2 tertentu yang terjangkau, terjangkau dari segi daerah maupun ada tidaknya anak didik dan pendidik. coba bandingkan bagaimana pendidikan di kota2 dengan desa2, guru, anak didik, gedung serta prasarana lainnya. mana yang lebih lengkap dan terurus? jawabannya tentu kota, kenapa? karena kota mudah dijangkau dan anggaran mudah di akses. kalau di desa? silahkan anda lihat sendiri bagaimana situasi pendidikan di desa2 terlebih desa terpencil dan terisolasi. bukankah anak di kota dan di desa punya hak sama dalam mengenyam pendidikan? bukankah mereka juga warga Indonesia yang berKTP Indonesia dan juga terbeban pajak? lantas, kenapa bangunan sekolah2 megah hanya di kota? yang seharusnya juga ada di desa untuk mendukung proses belajar-mengajar. di saat anak2 di daerah2 terpencil tidak lulus ujian nasional apakah karena mereka bodoh atau malas? tidak, mereka tidak lulus karena tidak layak lulus dengan prasarana yang tidak mendukung.
saya secara pribadi sangat khawatir jika kedepan pendidikan di negara tercinta ini semakin menjauh dari unsur transfer ilmu. sehingga generasi kedepan hanya mengedepankan ijazah sebagai alat tukar untuk memperoleh pekerjaan sementara mengenyampingkan ilmu sebagai sumber kehidupan. bukankah kita sepakat dengan ilmu derajat kita semakin tinggi dan martabat bangsa lebih terangkat. namun mengapa aplikasi di lapangan berbanding terbalik dari yang seharusnya dilakukan.
lihatlah negara2 maju seperti Amerika, Inggris, Finladia, Swedia, dll. mereka mengedepankan pendidikan jauh dari segala2nya sehingga mereka terus maju kedepan bukan mundur kebelakang karena ilmuan2 terus lahir dari generasi terdidik. Finlandia, salah satu negara di kawasan Eropa, memiliki sistem pendidikan yang sangat bagus bahkan menjadi rujukan bagi negara2 lain di dunia. di Finlandia pendidikan sangat merata di berbagai tempat, tidak ada pembeda antara kota dan desa, mutu dan kualitas sekolah terjamin dengan fasilitas yang mendukung, guru2 terbaik, dan proses belajar-mengajar yang terorganisir. wajar jika mereka meraih predikat negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia.
anak2 di Indonesia memiliki kualitas pribadi yang luar biasa, tidak sedikit yang berhasil meraih penghargaan di luar negeri karena kemampuannya yang luar biasa. dan sayangnya tidak sedikit yang dengan mata terbuka dibiarkan berkarir di negara lain dengan posisi2 penting. bukankah mereka pintar karena negara memberikan ruang pendidikan? tapi kenapa dilepaskan begitu saja?.penemu2 dan ilmuan2 Indonesia lebih memilih berkarir di negara lain karena negara sendiri tidak dapat menampung mereka atau secara kasar tidak sanggup membayar gaji mereka. bukankah uang negara setiap tahunnya semakin meningkat, lantas kemana uang2 itu? apakah untuk mengurus hal2 yang tidak penting atau masuk ke rekening2 “ilmuan2 gadungan”?
semoga kedepan alur pendidikan bisa bergerak kedepan, dipimpin oleh generasi berilmu yang masih mengedepankan ilmu sebagai tujuan utama. semoga pendidikan2 di desa2 terpencil juga lebih diperhatikan sehingga generasi berilmu tidak hanya terbatas di kota2 yang semakin hari semakin “teracuni” arus modernisasi. semoga ilmuan2 penting lebih tergerak untuk mendidik calon ilmuan di desa2 terpencil.

Sumber: http://edukasi.kompasiana.com/2012/07/25/potret-pendidikan-desa-dan-kota-480561.html

Senin, 19 Desember 2011

Pengaruh Sertifikasi Guru terhadap Kinerja Guru Ekonomi Akuntansi SMA

Pengaruh Sertifikasi Guru terhadap Kinerja Guru Ekonomi Akuntansi SMA dan SMK se Kabupaten Jepara

Farida Ulfah, 3351405526 (2009) Pengaruh Sertifikasi Guru terhadap Kinerja Guru Ekonomi Akuntansi SMA dan SMK se Kabupaten Jepara. Under Graduates thesis, Universitas Negeri Semarang.

PDF (Pengaruh Sertifikasi Guru terhadap Kinerja Guru Ekonomi Akuntansi SMA dan SMK se Kabupaten Jepara) - Published Version
Restricted to Registered users only

Request a copy

Abstract

Kinerja seorang guru dapat dipengaruhi seberapa besar guru menguasai kompetensi yang harus dipenuhi untuk menjadi seoarang pendidik. Penguasaan besarnya kompetensi oleh guru dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya dengan uji sertifikasi, yaitu proses pemberian sertifikat pendidik bagi guru yang telah memenuhi standar kompetensi guru. Untuk dapat mengetahui pengaruh sertifikasi terhadap kinerja guru ekonomi akuntansi SMA dan SMK se Kabupaten Jepara, maka perlu penelitian lebih lanjut. Permasalahan dalam penelitian ini berawal dari data guru sertifikasi dari dinas pendidikan yang belum jelas sehingga peneliti melakukan observasi dan mengambil data langsung dari masing-masing sekolah. Dengan rumusan masalah: (1) Adakah pengaruh sertifikasi guru terhadap kinerja guru ekonomi akuntansi SMA dan SMK se Kabupaten Jepara? (2) Adakah perbedaan kinerja guru ekonomi akuntansi SMA dan SMK se Kabupaten Jepara yang sudah tersertifikasi dan yang belum tersertifikasi? Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) pengaruh sertifikasi guru terhadap kinerja guru ekonomi akuntansi SMA dan SMK se Kabupaten Jepara. (2) Perbedaan kinerja guru ekonomi akuntansi SMA dan SMK Se Kabupaten Jepara yang sudah tersertifikasi dan yang belum tersertifikasi. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh guru ekonomi akuntansi SMA dan SMK se Kabupaten Jepara yang lulus sertifikasi yang berjumlah 18 guru yang dapat diteliti hanya 17 guru, sedangkan guru yang belum sertifikasi dengan jumlah yang sama diambilkan dari sekolah secara proporsional yaitu 17 guru. Variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah Kualifikasi akademik, pendidikan dan pelatihan, prestasi akademik, karya pengembangan profesi dan , keikutsertaan dalam forum Ilmiah sebagai variabel bebas, dan kinerja guru sebagai variabel terikat. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah metode angket. Selanjutnya data yang telah terkumpul dianalisis menggunakan analisis diskriptif persentase dan regresi berganda. Berdasarkan hasil deskriptif persentase menunjukkan bahwa secara umum kualifikasi akademik sejumlah 70,58% atau sejumlah 12 guru untuk skor kualifikasi 14536,8-46,6. Prestasi akademik berjumlah 58,82 atau 10 guru untuk skor prestasi akademik sebesar 5736,8-46,6. Karya pengembangan profesi guru sebesar 70,58%% atau sejumlah 12 guru untuk skor karya pengembangan profesi sebesar 0≤skor≤66 dengan skor kinerja antara >36,8-46,6. Karya keikutsertaan dalam forum ilmiah guru yaitu sebesar 94.11% atau sejumlah 16 guru untuk skor keikusertaan dalam forum Ilmiah sebesar 0≤skor≤57 dengan skor kinerja antara >8-17,6. Secara simultan sertifikasi guru berpengaruh terhadap kinerja guru ekonomi akuntansi besarnya pengaruh sebesar 91,10% sisanya 8,90% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak dikaji dalam penelitian ini misalnya kepuasan kerja, kepemimpinan kepala sekolah dan lain sebagainnya. Secara parsial komponen sertifikasi berpengaruh terhadap kinerja guru ekonomi akuntansi SMA dan SMK se kabupaten Jepara adalah kualifikasi akademik, pendidikan dan pelatihan, dan prestasi akademik dengan pengaruh kualifikasi sebesar 33,75%, pendidikan dan pelatihan sebesar 52,99%, dan prestasi akademik sebesar 47,33%. Sedangkan 2 variabel lainnya tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja guru . Berdasarkan hasil uji t ada perbedaan kinerja guru sertifikasi dengan kinerja guru non sertifikasi dengan rata-rata kinerja guru sertifikasi sebesar 47.47 dibandingkan kinerja guru non sertifikasi yang memiliki rata-rata kinerja sebesar 43.88 apabila dilihat per indikator kinerja berdasarkan hasl uji t dan analisis diskriminan indicator hanya prestasi kerja yang memiliki perbedaan kinerja antara guru sertifikasi dan non sertifikasi. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan ada pengaruh sertifikasi terhadap kinerja guru dan ada pembedaan kinerja antara guru sertifikasi dan guru non sertifikasi. Oleh karena itu peneliti menyarankan kepada penyelenggara sertifikasi guru agar mengoptimalkan kegiatan sertifikasi guru agar kinerja guru di Indonesia semakin meningkat, perlu adanya peningkatan kualifikasi akademik guru, yaitu dengan memberikan beasiswa pendidikan kepada guru, atau program yang bertujuan meningkatkan kualifikasi akademik guru, mengadakan kegiatan pendidikan dan pelatihan bagi guru secara rutin untuk menjaga dan meningkatkan kemamapuan penyelengaraan pendidikan yang dimiliki guru, menyelengggarakan kegiatan-kegiatan yang menunjang prestasi akademik guru, mengadakan penilaian kinerja guru secara rutin untuk mengetahui perkembangan kinerja guru.

http://lib.unnes.ac.id/2229/

Selasa, 01 Maret 2011

Potret Bangsa Indonesia Masa Depan

Potret Bangsa Indonesia Masa Depan

Potret Bangsa Indonesia masa datang yang ingin dibangun, bangsa yang bermartabat, kita tetapkan beberapa butir yang paling dominan, tidak di awang-awang, membumi, mudah operasionalisasinya, mudah dicerna masyarakat luas, dan ada niat serta kemauan mengimplementasikan, kita gali dari pandangan beberapa pakar berikut (Silalahi, Marie Muhammad, Feisal Tamin, Erna Witular, Hasil Penelitian LIPI, Prof. MT Zen, Imam Buchori Zainun, Mohammad Sahari Besari, Tjia May Oen, I Gde Rake, Harijono Djojodiharjo, dan Ciputra):
  1. Silalahi, mantan Menpan, ”Sepuluh Pedoman Pengabdian Aparatur”: (1) Mengenal, mengerti, menghayati, dan melaksanakan tugas dengan baik dan bertanggungjawab; (2) Tabah, rajin, dan menyelesaikan pekerjaan secepatnya; (3) Patriot, berusaha dan bertindak mencapai hasil lebih baik; (4) Terpuji, berbuat yang bermanfaat untuk organisasi dan masyarakat; (5) Mawas diri, Belajar dan berlatih terus menerus; (6) Beriman, bertaqwa, beriptek, berdoa, berusaha, dan bersyukur; (7) Kesatria, jujur, dan berani mengakui kesalahan; (8) Dewasa, bekerja tanpa putu asa dan menyadari keterbatasan; (9) Bijaksana, berbadan dan berpikir sehari; dan (10) Aparatur sejati, semangat, tak kenal menyerah, rela berkorban, dan loyal.
  2. Marie Muhammad, mantan Menkeu: manusia Indonesia masa depan adalah manusia yang transparan, bertanggungjwab dan bertanggunggugat, wajar dan setara, berkesinambungan dan berkelanjutan, memberi kesempatan yang sama untuk ambil bagian dalam proses pengambilan keputusan.
  3. Feisal Tamin, mantan Menpan: harus dibangun birokrat profesional karier hang netral, kompeten, sejahtera, setia dan taat kepada negara, pemerinah dan masyarakat, bermental baik, berwibawa, berkualitas, dan selalu memperbaiki dirinya memberikan pelayanan kepada masyarakat.
  4. Erna Witular, mantan Menteri: perlu ada saling tahu, adanya dialog, mengakui adanya perbedaan, tumbuh konsensus dan sinergi, dan melihat perbedaan justru sebagai warna dalam tata pengaturan.
  5. Hasil Penelitian LIPI (2000): harus dibangun manusia Indonesia modern yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan dari Manusia Indonesia tradisional, yang bercirikan manusia yang selalu melihat ke masa depan, percaya pada diri sendiri, sikap hidup kritis, gaya hidup kreatif, cara berpikir rasional dan analitik, stratifiksi sosial

Pemuda - Wirausaha

PEMUDA-WIRAUSAHA


KELEMAHAN: KEKUATAN:
  • PENGALAMAN FISIK
  • INSTANT IDEALIS
  • EGOIS CITA-CITA
  • PUTUS ASA KREATIVITAS
  • GENGSI KOLEKTIVITAS
  • SANTAI,RELAKS SEMANGAT

PERUBAHAN DARI KE
  • AKTIF PRO-AKTIF
  • KREATIF KREATIF-INOVATIF
  • PRODUKIF BERNILAI (TAMPIL BEDA)
  • PENGIKUT PEMIMPIN INISIATOR
  • SERBA TAHU SERBA MAPAN
  • CAKAP SURVIVAL SKILL
  • OUTPUT OUTCOME


MENUJU PROFESIONALITAS:

PENGALAMAN – KETERAMPILAN - PENGETAHUAN

LEARNING: TO KNOW; TO DO; TO LIVE TOGETHER,
TO BE ......; HOW TO LEARN – UNLEARN

MENUJU: PENINGKATAN;
  • PRODUKTIVITAS;
  • VISIONARY; FUTURISTIK
  • WAWASAN PIMPINAN DAN KETEELADANAN
  • CAKAP (LIFE SKILL)


DARI KE
  • PENCARI KERJA PENCIPTA KERJA
  • PEKERJA PENCIPTA KAPANGAN KERJA
  • PEMBUKA LAPANGAN KERJA PEMUDA WIRASAHA BARU

KEPELOPORAN WIRA: UTAMA; GAGAH BERANI
  • KEPEMIMPINAN SWA: MANDIRI
  • KEMANDIRIAN STA: BERDIKARI
  • KEBERANIAN USAHA:PRODUKTIVITAS

Minggu, 10 Oktober 2010

Pendidikan Kewirausahaan

Modal utama seorang entrepreneur bukanlah uang, melainkan kreativitas. Tanpa kreativitas, syarat utama seorang calon entrepreneur, yang ada bukanlah entrepreneur sejati, melainkan pedagang.

Ciputra: Kita Terlalu Banyak Ciptakan Sarjana Pencari Kerja!

Oleh ST SULARTO

KOMPAS.com - Pengembangan entrepreneurship (kewirausahaan) adalah kunci kemajuan. Mengapa? Itulah cara mengurangi jumlah penganggur, menciptakan lapangan kerja, mengentaskan masyarakat dari kemiskinan dan keterpurukan ekonomis. Lebih jauh lagi dan politis, meningkatkan harkat sebagai bangsa yang mandiri dan bermartabat.

Dalam ranah pendidikan, persoalannya menyangkut bagaimana dikembangkan praksis pendidikan yang tidak hanya menghasilkan manusia terampil dari sisi ulah intelektual, tetapi juga praksis pendidikan yang inspiratif-pragmatis.

Praksis pendidikan, lewat kurikulum, sistem dan penyelenggaraannya harus serba terbuka, eksploratif, dan membebaskan. Tidak hanya praksis pendidikan yang link and match (tanggem), yang lulusannya siap memasuki lapangan kerja, tetapi juga siap menciptakan lapangan kerja.

Panelis Agus Bastian menangkap gejala yang berkebalikan di lingkungan terdekatnya, Kota Yogyakarta. Di satu sisi bermunculan banyak entrepreneur muda yang kreatif. Mereka jeli menangkap peluang menjawab kebutuhan komunitas kampus. Misalnya bisnis refil tinta, merakit komputer, jual beli buku, cuci kiloan, melukis sepatu—sebelumnya tentu saja yang sudah lama melukis kaus—sama seperti rekan-rekan mereka di kota lain, seperti Bandung.

Sebaliknya, pada saat yang sama, rekan-rekan mereka berebut tempat meraih kursi pegawai negeri. Ribuan anak muda terdidik berdesakan antre mendaftar, mengikuti ujian saringan, bahkan ada yang perlu merogoh kocek ratusan ribu untuk pelicin.

Ditarik dalam konteks nasional, pengamatan Bastian itulah miniatur kondisi ketenagakerjaan Indonesia, lebih jauh lagi potret lemahnya jiwa kewirausahaan. Misalnya, bahkan untuk sarjana yang relatif potensial terserap di lapangan kerja pun, sampai pertengahan tahun lalu 70 persen dari 6.000 sarjana pertanian lulusan 58 perguruan tinggi di Indonesia menganggur. Merekalah bagian dari 9,43 juta atau 8,46 persen jumlah penduduk pada Februari 2008.

Tidak imbangnya jumlah pelamar kerja dan lowongan kerja, gejalanya merata di seluruh pelosok—bahkan jumlah penganggur terdidik semakin

Proposal Lokakarya

Para pendidik budiman,

Pendidikan karakter akhir-akhir ini ramai dibicarakan dan ingin dikembalikan lagi pada inti pendidikan kita. Pendidikan tanpa karakter, menurut Mahatma Gandhi merupakan salah satu dosa sosial dalam masyarakat kita. Pendidikan tanpa karakter hanya akan membuat individu tumbuh secara parsial, menjadi sosok yang cerdas dan pandai, namun kurang memiliki pertumbuhan secara lebih penuh sebagai manusia. Situs ini berisi berbagai macam informasi tentang pendidikan karakter, baik itu berupa materi, pengayaan, konsultasi maupun berita-berita seputar pendidikan karakter. Semoga dengan kehadiran situs ini, pengetahuan dan wawasan kita tentang pendidikan karakter semakin meningkat. Kita berharap bahwa pada akhirnya kita mampu memperbaiki dunia pendidikan di negeri Indonesia tercinta. Kami membuka kerjasama dalam bentuk apapun dengan individu maupun lembaga dalam pengembangan pendidikan karakter di tanah air.

Masukan dan kritik dari pembaca sangat kami perlukan.

Salam pendidikan,

Doni Koesoema A. M.Ed

Direktur Pendidikan Karakter
Peserta Lokakarya SD Sang Timur Manjadi Wartawan Cilik Bersama Wapres


Misi (Mission)
"Working for Better School of Tomorrow"


Visi (Vision)
Mencerdaskan kehidupan bangsa
dalam konteks masyarakat bhineka

Nilai Utama (Core Values)
Nilai-nilai utama yang menjadi prinsip pelayanan kami adalah:
1. Kerja sama (Partnership)
2. Terpercaya (Trusted)
3. Berhasil Guna (Effective)
4. Utuh dan Menyeluruh (Integrated)
5. Kontekstual (Contextual)

Lokakarya Pendidikan Karakter
Berikut ini tema-tema program lokakarya yang saat ini tersedia:

  1. Introduction to Character Education (Seri 1a)
  2. Introduction to Charactrer Education (Seri 1b)
  3. Rationale dan Tiga Basis Desain Pendidikan Karakter (Seri 2)
  4. Desain Pendidikan Karakter Berbasis Kelas (Seri 3)
  5. Desain Pendidikan Karakter Berbasis Kultur Sekolah (Seri 4)
  6. Desain Pendidikan Karakter Berbasis Komunitas (Seri 5)
  7. Delapan Langkah Program Pendidikan Karakter Efektif (Seri 6)
  8. Dokumentasi Program Pendidikan Karakter (Seri 7)
  9. Standard Evaluasi Pendidikan Karakter (Seri 8)


Penting, Pendidikan Karakter Generasi Muda
10-08-2010

BLORA - Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Tengah Dr H Bambang Sadono SH MH menyatakan pentingnya pendidikan karakter bagi generasi bangsa. Hal itu dikemukakannya saat melakukan penjaringan aspirasi (reses) di Desa Jiworejo, Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora, Selasa (20/7).

"Pendidikan karakter ini sangat penting bagi generasi